Kisah Cinta? Part 1

Dulu, sewaktu aku masih sekolah. Ketika aku menyukai seseorang, aku akan memendamnya sendiri.

Masih sama saat aku sudah berkuliah. Bayangkan, aku menyukai orang yang sama sepanjang masa kuliahku. Aku tak pernah sedikitpun memberitahukannya, seperti apa perasaanku.

Hal hebat yang pernah kulakukan setiap tahunnya hanya memintanya berfoto setelah acara hari Natal kampus. Hal sedihpun terjadi, di tahun terakhir aku merayakan hari sakral tersebut, ia sudah memiliki pacar.

Aku menatapnya dari jauh saat mereka berdua duduk di salah satu bangku di luar gereja. Yang kusuka melihat ke arahku. Ya, aku sadar. Waktu itu aku berfoto dengan salah satu teman lelakiku. Mungkin ia berpikir, "Kenapa dia engga ajak aku foto lagi ya?" Mungkin.

Yang membuatku bingung dengan dunia yang katanya akan menjadikan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Aku pernah berkata padanya, disalah satu sudut kampus yang saat itu sedikit sepi karena ada acara tahunan di sudut lainnya.

Ia menanyakan kabar skripsiku, aku menjawab apa yang terjadi. Sambi membubuhi, "Nanti kalau aku wisuda, kamu datang ya."

Ia senyum, senyum yang sangat aku sukai. Senyum yang teduh. Senyum yang belum bisa kulupakan. Sampai saat ini. 

"Iya, kak, aku janji," ya, dia adalah juniorku.

Aku mulai menyukainya sejak pandangan pertama. Saat itu ia memainkan keyboard untuk persembahan mahasiswa baru kepada kampus saat ospek berjalan. Ia setahun lebih muda dariku, setahun lebih lama menjadi salah satu mahasiswa di kampus, setahun lebih lama masuk ke dalam pikiran tia hariku.

Dan dengan bodohnya, aku menjalarka tanganku untuk meminta salam, tanda janji. Dia meraihnya, salah satu temanku adalah saksinya.

Tiba saatnya hari wisuda. Saat itu ia sudah berpacaran dengan perempuan cantik yang menjadi idola di kampus. Akupun mengurungkan niat untuk berharap melihatnya di acara wisuda.

Waktupun berlalu, aku mendapatkan hadiah dari para sahabat. Tersenyum, bahagia. Hari yang indah.

Dan tanpa diduga, dia ada di sana. Dia ada bersama kekasihnya. Damn. Antara senang atau tidak, antara harus anggap bodoh atau tidak.

Kami berfoto bersama, aku dan teman temanku, aku dan keluargaku. Tetapi pikiranku hampir seluruhnya tertuju padanya. Sial.

Ia dan kekasihnya menghampiri kami, ia memberikan selamat atas kelulusanku. Sungguh, aku ingin sekali ia melakukannya tanpa menggandeng kekasihnya. Huft.

 Ya, kurang lebih sperti itulah bagaimana aku dengan bodohnya membiarkan dia ada di sini. Di hati ini. Aku seperti orang bodoh di kala itu. Sebentar, bukan hanya saat itu. Aku akan menceritakan kebodohanku yang lainnya.

Komentar